News Update :
Home » , » Selingkuh Dengan Istri Tetangga

Selingkuh Dengan Istri Tetangga

Penulis : Zaisuhaila Ishak on Saturday, May 9, 2009 | 10:20 AM

Ceritanya dimulai sewaktu saya ditugaskan sebagai staff di pabrik pengolahan minyak sawit di salah satuperkebunan di Sulawesi. Ini adalah kisah nyataku. Sebut saja namaku Alex, umurku saat itu 27 tahun, belum menikah. Sebagai seorang staff yang baru pindah ke daerah perkebunan, dimana masyarakat yg tinggal sangat berjauhan kecuali karyawan dan staff perkebunan yg sengaja dibuat dalam satu perumahan, mutlak sebagai pendukung utama opersional ygsewaktu-waktu bisa dipanggil dalam waktu 24 jam.
Walaupun sebagai staff, karena sebelumnya perumahan sudah diisi oleh sebagian karyawan yg sudah duluanmenempati, saya menempati rumah kopel kayu (dua rumah dempet menjadi satu bangunan) ketiga dariujung dan agak kecil yg sebenarnya fasilitas untuk karyawan biasa. Manager pabrik sendiri menganjurkanagar memindahkan karyawan yg sudah menempati fasilitas rumah (rumah single beton) yang sebenarnyadiperuntukkan bagi staff bujangan maupun keluarga, tapi untuk mengambil hati para karyawan yang mananantinya juga akan menjadi bawahan saya. Akhirnya sayapun minta agar diijinkan menempati rumah kopelketiga dari pinggir menghadap ke timur berhadapan dengan rumah yang menghadap ke barat dibatasi olehjalan besar belum diaspal tapi sudah dikerasin.Rumah tetangga sebelah kiri yang agak berjarak tanah kosong selebar satu rumah ditempati oleh karyawanlaki-laki yang sudah berkeluarga teapi istrinya masih tinggal di rumah orangtuanya , jauh dari lokasiperkebunan. Biasanya dia pulang sekali sebulan untuk mengantarkan gaji bulanan untuk nafkah anakistrinya.Rumah sebelah kanan yang merupakan pasangan rumah kopelku ditempati oleh karyawan laki-laki berumur35 tahun, sebut saja namanya bersama Nardi bersama istrinya yang berumur 33 tahun, sebut saja namanyaHartini. Hartini walaupun bukan termasuk wanita kota, tapi sangat modis dan mengikuti kemajuan jamandisesuaikan dengan kondisi ekonomi. Yang paling membuat saya sangat kagum adalah bentuk payudarayang sangat berisi dan body yang cenderung montok. Dengan kondisi rumah kopel kayu seperti itu biasanyasepelan apapun pembicaran ataupun gerakan dalam rumah akan terasa di rumah sebelah. Dan saat itukebetulan Nardi masuk dalam shift-1 dibawah pimpinan saya.Karena saya masih bujangan dan memang bukan tipe yang rajin ngurus rumah, untuk makan biasanya sayamakan di warung yang berada di luar lingkungan perumahan berjarak sekitar 500 meter dari perumahanpabrik dan 50 meter dari pabrik. Untuk cuci pakaian, aku usahakan cuci sendiri walaupun hanya satu kaliseminggu. Seringkali kalau udah malam atau hujan, terpaksa aku tidak makan nasi, hanya mengandalkan miinstant yang direbus seadanya. Karena mungkin kasihan, pada suatu sore sepulang kerja shift-1 pagi, kamibertiga, aku, Nardi dan Hartini ngobrol di teras, dan saat itu Nardi yang menjadi bawahanku itumenyarankan agar makan di rumahnya saja setiap hari dengan membayar secukupnya kepada istrinya.Akhirnya terjadi kesepakatan untuk makan setiap hari sekalian cuci pakaian ditanggung jawabi oleh Hartini.Karena setiap hari berdekatan dan makan bersama semakin lama hubungan kamipun semakin akrab dantidak sungkan lagi ngobrol berdua tanpa suaminya.Awal kejadian pada suatu sore sepulang kerja sekitar jam 16.00, dan Nardi masih lembur di pabrik untukmencari tambahan aku dan Hartini duduk ngobrol di teras. Saat itu aku menanyakan kenapa mereka yangsudah menikah 9 tahun belum punya anak. Dia dengan malu-malu bercerita bahwa mereka sudah sangatmenginginkan anak dan sampai saat ini Hartini sudah periksa ke dokter dan dinyatakan tidak ada masalah,dan suaminya sendiri katanya tidak mau periksa karena merasa tidak ada kelainan dalam hal fisik, dankebutuhan batin istrinya sanggup terpenuhi. Dari situ, semakin lama pembicaraan kami semakin bebassampai saya bercerita bahwa aku pernah mempunyai bekas pacar yang fisiknya agak montok sepertiHartini, dan iseng-iseng aku mengatakan bahwa biasanya wanita yang cenderung gendut mempunyaipayudara yang lembek dan turun dan rambut vagina sedikit dan jarang-jarang. Hartini membantah bahwatidak semuanya begitu, dan dia sendiri mengatakan bentuk kepunyaan dia sangat bertolak belakang denganyang saya katakana. Karena saya penasaran saya katakana bahwa Hartini pasti bohong, tapi dia menyangkal,akhirnya dengan jantung berdebar keras takut kalau Hartini marah saya minta tolong apabila bersedia inginmelihatnya. Tapi mungkin demi menjaga agar dia tidak dianggap murahan, dia menolak keras, lamakelamaan saya memohon dengan muka pura-pura dibuat kasihan ditambah alasan bahwa sudah kangenbanget sama pacar yang saat itu berada di Jakarta yang biasanya sekali seminggu bertemu, akhirnya diamengatakan dengan pipi merah bahwa saya boleh melihat dia tapi dari jauh dan tidak boleh menyentuhnya.Saya tentu saja dengan cepat menyetujuinya. Dengan gerak malas-malasan atau dibuat pura-pura berat hati,dia berjalan menuju kamar belakang yang berdampingan dengan kamar depan dan tak lupa menutup jendelabelakang yang berhadapan dengan lahan perkebunan masyarakat untuk menjaga apabila secara kebetulanada orang yang bekerja di lahan tersebut. Kemudian dia berdiri sambil tersenyum malu-malu kepada sayayang tak mau melepasakan pemandangan indah tersebut dari jendela depan yang sengaja saya atur posisisaya masih di teras tetapi kepala saya melongok ke dalam rumah seakan-akan kalau orang melihat darihalaman ataupun lewat dari jalanan kami sedang berbicara dengan orang yang berada di dalam rumah. Jarakantara posisi duduk saya (diperbatasan teras rumah saya dengan rumah dia) hanya berjarak sekitar empatmeter saja keposisi dia berdiri di kamar belakang.Dengan lagak seorang model dia bergerak pelan-pelan membuka kaos birunya sambil jalan ke kiri dankanan secara perlahan sampai ke balik pintu kamar sampai mata saya kadang tidak mampu melihatpemandangan yang mengasyikkan, tetapi setiap mau ke arah balik pintu saya perlahan teriak“Tin, jangan sampai kesitu dong, gua nggak bisa lihat nih.”.Sepertinya Hartini memang sengaja membuat saya penasaran. Kaos yang ditarik ke atas lalu dijepit olejhketiaknya dan kelihatan BH berwarna merah menyala seakan-akan tidak mampu menutupi semua payudaramontok putih yang menyembul keluar dari bagian atas BH nya seakan-akan protes mengapa dia dijepitterlalu keras. Setelah didiamkan sekitar 30 detik, sambil tersenyum mengedipkan mata sebelah kepada saya,dia pun mulai membuka kancing depan BH dan membiarkan cup BH nya menjuntai kebawah. (Akhirnyasaya ketahui bahwa Hartini mempnyai ukuran 36 dan cupnya saya kurang tau, yang jelas satu telapak tangansaya masih belum bisa menutupi sebelah payudaranya dan dia mempunyai BH yang tidak mempunyaikancing di belakang). Mata saya seakan-akan mau keluar melihat pemandangan tersebut, sedangkan diasendiri seakan-akan bangga menatap bagaimana saya sangat terpesona dengan payudaranya dengan putingsebesar puntung rokok Sampoerna Mild dan berwarna coklat kemerahan . Dalam 30 detik seakan-akan sayatidak bernafas tidak mau melepaskan pandangan saya sampai akhirnya dia berseru pelan“Udah ya, ntar lagi suamiku pulang”Saya tidak dapat berkata apapun saat itu dan sesudah merapikan pakaiannya, Hartini kembali ke terasseakan-akan tidak terjadi apa-apa kecuali berdiam diri dan duduk diteras rumahnya sedangkan saya sudahpindah duduknya kembali ke teras rumah saya. Setelah beberapa lama, perlahan berkata,“Jangan bilangin sama siapa-siapa ya?” kelihatannya Hartini sangat ketakutan apabila diketahui orang lain.“Jelas dong, masak gua bilangin sama orang, kan gua juga menanggung resiko”Sesaat kemudian dari jauh sudah kelihatan bahwa Nardi sudah pulang bersama teman-temannya yang ikutlembur. Kami pun berusaha berbicara normal tidak perlahan lagi tetapi membicarakan yang lain.Setelah menaiki tangga, Nardi langsung menyerahkan tas bekalnya kepada Hartini dan Hartini langsungmembawa masuk sambil memberesi tempat bekal suaminya. Saya dan Nardi ngobrol sebagaimana layaknyabertetangga walaupun dia tetap menaruh hormat karena bagaimanapun kalau di pabrik dia menjadi bawahansaya.Malamnya saya terus memikirkan persitiwa tadi sore, kenapa dia bersedia menunjukkan sesuatu yangharusnya hanya boleh dilihat oleh suaminya, padahal dia mengatakan dalam hal kepuasan batin diamengakuinya. Dalam hati saya berniat untuk lebih jauh., lagi mengingat bahwa Hartini tidak marah.Besoknya kira-kira dalam situasi yang sama sepulang kerja kami ngobrol kembali, dan saya beranikan untukmemancing lagi.“Kemarin memang benar ya, punya kamu memang bagus sekali bukan karena BH”.Dia tersenyum manis sedikit malu mungkin merasa bangga dengan pujian yang keluar dari mulut saya.“Tapi saya nggak yakin bahwa rambut bawah kamu bukan seperti yang saya lihat punya bekas pacarkudulu”Dengan masih tertawa kecil dia memperbaiki rambutnya dengan kedua tangannya.“Kan kemarin aku bilang apa, sekarang minta itu, sekarang ini, besok minta yang lain lagi dong Awas lhonanti ketahuan pacarmu yang sekarang di Jakarta, tau rasa deh.”“Nggak mungkin dia tahu, kecuali kamu yang bilanginnya”Walaupun saya menjawab mengatakan tidak perlu khawatir, tapi dalam hati saya bertanya kenapa justrupacar saya yang dia khawatirin bukannya diri sendiri atau suaminya. Berkat bujukan dan rayuan seoranglaki-laki walaupun bukan seorang ahli, dia berkata perlahan“Tapi ingat ya, hanya sebentar dan sekali ini saja ya. Aku takut nanti ketahuan sama suamiku, bisa dibunuhaku nanti. Sekalian awasi orang lain mana tau ada yang mau kesini”Saya hanya mengangguk cepat, tak sabar melihat pemandangan yang akan saya lihat.Perlahan Hartini berjalan menuju kamar belakang sambil saya menikmati pantatnya seperti pantat bebeksedang berjalan. Pemandangan dari belakang membuat penis saya sudah mulai naik dan saya langsungmembereskan posisi kontol saya agar tidak sakit. Sesampai di kamar dia pun sepertinya agak gugupmengintip sekeliling luar rumah dari celah papan. Sebentar kemudian dia menaikkan rok katun berwarnahitam setinggi lutut sampai celana dalam merahnya kelihatan. Mata saya seakan tidak mau berkedip takutmelewatkan pertunjukan gratis tersebut. Dia menatap saya dengan mata gugup, sepertinya ingin pertunjukantersebut.“Lex, udah lihat kan” teriaknya perlahan seperti berbisik.“Kan belum dibuka, tadi udah janji boleh lihat dari jauh. Kalau nggak aku aja deh yang buka ke situ ya”sahutku dengan perlahan sambil mata mengawasi sekeliling, tapi saya yakin masih kedengaran kepada dia.“Jangan …jangan kesini, disitu aja.”dia menjawab sepertinya ketakutan. Saya pun menganggukkan kepala .Kemudian dia melepaskan lagi rok yang sebelumnya diangkat sampai jatuh seperti posisi biasa, dan keduatangannya masuk dari bawahnya menurunkan CD sampai lepas, dengan sebelah tangan masih memegangiCD kemudian Hartini mengangkat roknya kembali ke atas. Ya ampun……Vaginanya sepertinya tertutupi oleh pegunungan hitam. Dia menatap saya dan mengangguk dengan ekspresimeminta persetujuan agar selesai. Saya sendiri berusaha agar lebih lama lagi menonton, tapi 15 detikkemudian dia langsung membungkuk dan memakai kembali CD nya. Kemudian dia membuka pintu kamarbelakang untuk menghilangkan kecurigaan suaminya apabila pulang nantinya dan langsung menuju dapuruntuk memberesi makan malam kami nantinya dan tidak bertemu lagi sampai kami makan malam. Dalamhati saya mulai yakin bahwa saya tidak bertepuk sebelah tangan. Selama ini apabila saya merasa sudahhorny, sayang melampiaskan dengan onani di kamar sambil tiduran ataupun di kamar mandi.Semenjak kejadian tersebut saya mulai berani memeluk, mencium maupun meraba sekalian menciumi buahdadanya sewaktu giliran Hartini mau mengantarkan pakaian bersih dan menyusun di lemari pakaianku yangsaya tempatkan di kamar tidurku. Biasanya sewaktu dia mau ngantar pakaian di depan pintu kamar biasanyadia sudah kasih kode jari di mulut, memberi info tidak aman. Apabila aman dia cuma senyum kecil, sayamengartikan isyarat aman. Disaat seperti itulah biasanya saya bisa menikmati bibir maupun teteknya.Kadang saking gemasnya saya tak sadar mengisap puting buah dadanya sampai dia kesakitan dan berbisik“Lex…. Jangan keras-keras. Emang nggak sakit.”Biasanya saya langsung minta maaf dan mengelus-elus buah dadanya dengan mesra. Ada kalanya Hartinitidak mau dicium karena sedang pake pewarna bibir, katanya nanti kalau dicium bisa hilang, suaminya bisacuriga, Sampai sampai sewaktu memberikan uang makan dan cuci pakaianku pun selalu saya menaruhnyasendiri ditengah buah dadanya baru saya tutup sendiri BH nya dan diakhiri dengan senyum dan cium.Puncak perselingkuhan kami adalah saat saya mau masuk shift sore, masuk jam empat sore dan biasanyapulang jam 12 malam, kalau buah sawit sedang panen raya dan menumpuk biasanya diteruskan sampai pagi.Setiap shift sore biasanya saya akan pulang sekitar jam 7 atau 8 malam untuk malam, sementara bisabergantian dengan asistenku, biasanya jatah satu jam. Dan suami Hartini yaitu Nardi biasanya karena tidakpunya kendaraan, malas pulang dan sudah membawa bekal dari rumah sore harinya. Sore itu sekitar jam 2siang saya sudah mandi dan bersiap-siap mau berangkat, karena sebagai kepala shift harus koordinasi duludengan kepala shift pagi, dan saya masih memakai handuk bertelanjang dada di kamar, Hartini datang kekamar sambil menaruh jari diatas bibir, pertanda tidak aman. Saya berbisik,“Emang dimana suamimu”“Itu masih lagi tidur di kamar” jawabnya perlahan. Hartini pun berjalan menuju lemari pakaianku sambiltangan kirinya mencubit puting tetekku. Saya merasa geli, dan mau membalas mencubit teteknya. Diamengelak sambil berbisik,“Jangan sekarang, ntar malam aja, waktu pulang makan”“Dimana”“Ntar ke kamar saja langsung, pintu belakang tidak kukunci, hanya ditutupkan saja”“Tapi nanti jangan pake apa-apa ya.“ godaku pelan sambil main mataSaya diam memikirkan kata-katanya, Sambil berjalan ke teras saya masih sempatkan meraba pantatnyasampai dia menepiskannya. Saya kaget memikirkan ada apa Hartini malah mengundang saya malam-malamke kamarnya.Sampai di pabrik saya tidak konsentrasi dalam mengawasi karyawan melakukan tugas masing-masing danmasih memikirkan apa maunya Hartini. Saya sengaja agak lebih lama pulang makan malamnya sekitar jam8.30 malam, dan suasana perumahan sudah agak sepi karena gerimis dari sore. Saya langsung menempatmotor dinas ke belakang rumah agar tidak menyolok dari luar. Saya masuk rumah dan menyalakan lampusebentar kemudian dari celah papan, saya mengintip rumah sebelah dan kelihatan rumah sangat gelap,karena biasanya pada saat tidur memang kebiasaan lampu dimatikan. Pandangan orang dari luar kalau lampusudah dimatikan biasanya enggan bertamu paling tidak kalau tidak benar-benar penting sekali.“Tin…..udah tidur ya, kesini dong?” teriakku pelan, sampai dua kali saya berteriak pelan, Hartinipunmendekat dibatasi oleh papan pembatas berbisik“Pintu belakang tidak dikunci, Alex aja yang kesini”Sayapun berjalan menuju kebelakang rumah sambil mematikan lampu ruang tengah, sehingga dari luarkelihatan saya sudah pergi kembali ke pabrik. Karena sangat gelap saya membiasakan mata dulu, barumengawasi sekeliling. Mengingat kaos kerja yang saya pakai berwarna putih, saya membuka danmenyangkutkan di pintu belakang sebelah dalam. Lalu berjingkat-jingkat perlahan saya menuju pintubelakang rumah Hartini. Dengan sangat hati-hati saya mendorong pintu, takut mengeluarkan suara danberjalan pelan sekali sambil menahan nafas, takut getaran kaki saya di lantai papan kedengaran sama oranglain. Memasuki kamar depan, Hartini kelihatan tidur dengan memakai kain sarung sebatas dada dan kaosyou can see berwarna pink yang bisa saya lihat dari cahaya lampu jalan di depan rumah masuk dari celahpapan kayu. Hartini berpura-pura memejamkan mata. Saya langsung jongkok di sampingnya dan merababua dadanya tanpa membuka kain sarungnya. Dia melirik sambil tangannya mencubit pipi saya. Sayateruskan dengan mencium bibirnya. Tak lama kemudian dia pun membalas dan tangan saya mulaimenurunkan kain sarungnya dan manaikkan kaos sampai buah dadanya kelihatan penuh. Saat itu Hartinitidak memakai BH lagi seperti godaan saya siang harinya. Agak lama kami berciuman sambil tangankananku meremas-remas kedua buah dadanya. Saya merasa sudah sangat horny begitu juga penglihatan sayakepada .Hartini.“Tin, mau nggak kita masukin, ntar gua buang diluar deh.” Bisikku“Lex, jangan dibuang diluar” jawabnya pelan sambil memelukku lebih keras sambil mencium pipi kiriku .“Ntar kalau hamil gimana dong, bisa bahaya kita” sahutku.Tanganku masih terus memutar-mutar putting kirinya. Tangan kiriku memangku lehernya sambil menahanberat tubuhku, karena saat itu saya masih jongkok.“Biar aja. Aku kan punya suami. Kalau aku hamil kan wajar”“ Tapi kalau nantinya anaknya lahir mirip gua gimana dong, suamimu bisa curiga loh”Dia menatap saya memelas, seperti meminta pertolongan, saya merasa kasihan melihat wajahnya.“Tolongin aku ya Lex, pokoknya dikeluarin didalam aja. Saya tanggung kamu tidak akan apa-apa. Akupengen hamil Lex. Aku ingin buktikan kepada keluarga suamiku bahwa aku tidak mandul.”Sepertinya dia memohon. Saya ingat bahwa Hartini pernah cerita bahwa beberapa keluarga suaminya diamdiamsudah menganjurkan agar suaminya mencari istri lagi kalau ingin punya anak.“Kamu sudah yakin” Saya ingin menegaskan lagi bahwa dia memang meninginkannya.“Iya Lex, tolongin aku ya” bisiknya langsung mencium bibirku. Saya pun membalas ciumannya setelahyakin dia memang sangat menginginkannya. Sambil tetap berciuman tanganku mulai menarik turun kainsarungnya sampai lepas melewati kaki. Saya melepaskan bibirku turun ke puting buah dadanya sambiltangan kananku meraba pangkal paha. Sepertinya CD Hartini sudah agak basah. Hartini mendesah pelansambil tangannya masih memeluk kepalaku, sekali-kali berusaha menekan kearah teteknya yang sedangsaya putar-putar pakai lidah, sambil tanganku menarik CD nya turun lepas dari kakinya dibantu dengangerak pantat Hartini yang terangkat. Mataku sekali-sekali melirik ke arah vagina yang ditumbuhi rambutyang lebat dan tanganku meraba-raba menyisihkan rambut yang lebat agar tanganku bisa masuk ke lobangvaginanya. Refleks tangan kiri Hartini menangkap tangan kananku dan menariknya ke atas tanpamelepaskannya lagi. Saat itu mulutku mulai turun ke arah perut, tetapi sesampai pusar Hartini menolak danmenahan kepalaku agar jangan sampai ke memeknya. Saya berusaha pelan-pelan menarik kepalaku sampaimulutku hampir mencium vaginanya. Tiba-tiba Hartini bangun duduk. Saya kaget dan takut dia marah.Sambil menatapku dia melingkarkan tangannya ke leherku, berbisik.“Jangan cium, bau. Aku nggak mau dicium itu.”“Nggak bau kok Tin, malah harum. Sebentar aja ya” jawabku merayu sambil cium lehernya. Hartinimenggelinjing dan sambil mendesah pelan“Pokoknya jangan ya Lex, kamu masukin aja punya kamu”Tangannya meraba ke arah penisku, yang sudah menegang tapi tidak maksimum karena kurang konsentrasi,setiap saat harus mengawasi suara di sekeliling rumah. Saat itu saya malah masih memakai celana kerjatelanjang dada. Hartini berusaha membuka gesper, tapi agak kesulitan. Saya bangun dan membuka sendirisampai benar-benar telanjang. Lalu saya tunjukkan penisku kepada Hartini, dia membuang muka. Sayamemegang kepalanya bermaksud agar dia mau mengoral penisku, tapi dia bertahan tidak mau. Akhirnyakami kembali berbaring di tempat tidur menetralkan suasana sambil kembali memulai cumbuan. Akhirnyasaya dan Hartini sepertinya sudah kembali sama-sama horny, dan saya putuskan mengangkat kaki kanankumerenggangkan kedua kakinya. Sedikit demi sedikit kakinya mulai ngangkang sampai kedua kakiku bisamasuk, siap untuk memasuki lubang surga. Tapi Hartini memelukku dengan erat sampai mulutnyamenyumpal mulutku dan membisiki,“Kita di lantai aja ya. Jangan disini. Soalnya tempat tidurnya berisik nanti”Tanpa menjawab saya langsung bangun turun dari tempat tidur dan Hartini ikut bangun sambil bawa sebuahbantal dan berbaring merenggangkan kakinya di lantai. Saya yang sudah nggak sabaran langsungmengambil posisi. Tak lupa kaos pinknya saya buka sampai lepas melewati kepala. Tangan kanan sayamemegang penisku mengarahkan ke vagina yang sudah banyak mengeluarkan cairan. Sesaat sesudahmenyentuh bibir vaginanya, kami berdua saling memandang, seakan-akan meminta persetujuan, danmulutku mencium mulut Hartini dan langsung dibalas sambil memeluk erat.“Tin, gua masukin ya. Nggak nyesal kan?” Bisikku kembali memastikan.Hartini tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala pelan, tapi terasa bahwa dia sudah merespon, pelanpelansaya masukin penisku yang berukuran diameter 4 cm dan panjang 12 cm. Saya menahan nafasbegitupun Hartini menikmati saat indah tersebut. Walaupun vagina Hartini sudah mengeluarkan banyakcairan, sepertinya masih bisa gua rasakan betapa saat memasuki memeknya terasa nikmat sampai sesudahmasuk semua, saya diamkan sambil memandang muka Hartini yang memejamkan matanya. Sesaatkemudian dia membuka matanya dan langsung buang muka merapatkan pelukannya sambil menciumleherku. Dengan bertumpukan kedua siku di lantai saya mulai menaikturunkan pantatku, sampai kedengaranbunyi suara dari lobang vagina Hartini seperti suara tepukan tangan di air.“plok…plok….plok……”Beberapa lama saya menggenjot penisku, tiba-tiba kedua kaki Hartini menjepit keras kedua kakiku sampaisaya kesusahan mengangkat pantatku, sampai saat pantatku kuangkat terasa berat karena pantat Hartini jugaikut terangkat dan kurasakan leherku digigit. Saya berpikir mungkin dia sudah orgasme, tapi kurasakan jugaada yang mendesak dari penisku.“ Kamu udah keluar duluan ya” tanyaku karena jepitan kakinya terasa semakin lama semakin lemah sampaikini telapak kakinya sudah menapaki lantai kayu lagi seperti semula. Dia tidak menjawab hanya mencaricarimulutku dengan mulutnya dan melumat lidahku.“Gua udah mau keluar nih, keluarin diluar aja ya?” bisikku sesaat setelah bisa melepaskan lidahku darimulutnya, memastikan karena saya masih takut resikonya di kemudian hari.“Tolongin aku Lex..aku ingin sekali hamil.” Suaranya seperti mau nangis meminta. Tapi tangan kanannyasudah ditaruh diatas pantatku sepertinya menjaga agar nantinya saya tidak melepaskan penisku darivaginanya.“Ya udah, tapi kamu harus jaga rahasia ini baik-baik ya?” jawabku“Iya…iya…nggak usah khawatir, tapi janji jangan dibuang di luar ya” bisiknya.Saya nggak jawab lagi tapi mulai menggenjot memeknya lagi yang sepertinya semakin kurang menjepitkarena sudah orgasme seraya mulutku mengulum lidahnya. Beberapa saat kemudian aku membisikitelinganya,“Gua udah mau keluar” sambil genjotanku semakin cepat dan tangan kanannya menekan pantatku semakinkeras ditambah kedua kakinya menekan belakang pahaku dari atas sambil tangan kirinya memeluk leherkudengan ketat, sampai akhirnya“ouchhhhhh……” mulutku mengulum mulut Hartini seakan mau menghabiskan saat itu. Dan terasa adayang keluar dari kontolku membasahi memek Hartini.“Crooot….crooot…croooooot…”Sampai rasanya tidak ada lagi yang dikeluarkan baru saya menghentikan genjotanku dan diam bertumpukankedua siku tangan dan penisku sengaja saya tumpukan ke vagina Hartini. Saya terdiam tidak bergerak,sambil memandangi mukanya yang terpejam. Kukecup bibirnya dan berbisik.“Tin, aku balik ya, kelamaan ntar orang lain bisa curiga”“Makasih ya Lex, makan malamnya sudah aku taruh dirumahmu tadi sebelum kamu dating.” Jawabnyapelan.Tetapi ketika saya mau melepaskan penisku dari vaginanya, dia meraih leherku dan sesaat mencium bibirkudengan mesra. Ketika sudah dilepaskan aku langsung bangkit berdiri dan mencari celanaku yang saya lupataruh dimana. Hartini masih tiduran dan merapatkan kakinya memandang saya dan mengarahkantelunjuknya ke tempat tidur, tapi yang saya lihat malah CD nya, dan mengambil dengan tangan kiri untukdiserahkan kepada Hartini , tapi dia malah menarik tangan kananku dan tangan kanannya menyambut CDseraya menyuruhku pelan agar jongkok Saya mengikuti saja tanpa tahu kemauannya. Hartini melapkontolku yang masih basah dengan cairanku yang bercampur dengan cairannya sendiri dengan CD putihnya,saya tersenyum dan meremas buah dadanya dengan tangan kiri. Kemudian telunjuknya menunjukkandimana tadi celana saya lepaskan. Sesaat sesudah saya memakai celana, saya jongkok untuk mencium diadan pamit sekalian berterima kasih atas bonus cuci pakaian dapat cuci penis, dia tersenyum sambil mencubitpelan pipi kiriku.Begitulah sampai sekitar 6 bulan kemudian kami sering melakukan hubungan suami istri setiap adakesempatan, walaupun tidak setiap berhubungan Hartini mendapat orgasme karena kadang saya merayudengan alasan biar lebih cepat hamil walaupun dia sedang tidak menginginkannya atau takut ketahuan oranglain yang penting birahiku terpuasakan. Enam bulan kemudian saya menikah dan istriku menjadi seorangibu rumah tangga yang tinggal bertetangga dengan Hartini, dan anehnya empat bulan sesudah menikah istrisaya hamil. Saya merasa kasihan kepada Hartini, walaupun kami berhubungan sekitar enam bulan sepertisuami istri belum hamil-hamil juga bahkan sampai saya mutasi ke Jakarta kembali. Dia hanya sedih menatapkepergian kami sewaktu mau meninggalkan perumahan tanpa kata-kata perpisahan..
TAMAT
Share this article :
 
Design Template by ZoOM Team | Support by creating website | Powered by Blogger